Buduran, Senin, 29 September 2025
Sore itu setelah adzan ashar berkumandang, ia lekas saja keluar untuk mengambil wudhu, memakai peci dan pakaian putih, lalu bergegas ke mushala pesantren, setelah Sholat sunnah Qobliyah Ashar dia lakukan, ia duduk menunggu iqamah sambil menghafalkan nadzoman, sholat diiqomati dan ia berjamaah bersama ratusan temannya yang lain, di sujud rakaat ke 2, tiba-tiba datang suara gemuruh begitu gaduh, ia tidak sempat berdiri dari sujudnya, dan tiba-tiba dunia seakan terhenti, semua menjadi berdebu. Sunyi, senyap dan gelap.
Ia berdiri dari sujudnya, ia melihat sekitarnya, tapi ia bukan di pesantrennya lagi, melainkan di tempat yang indah luar biasa, entah tempat apa itu, tempat penuh cahaya menenangkan yang selama ini tak pernah terlihat oleh matanya, tak pernah terdengar oleh telinganya, dan tak pernah terbesit dalam angan dan fikirannya. Tak ada debu, tak ada runtuhan, tak ada rasa sakit.
Baju koko putihnya yang tadi lusuh oleh kotoran debu sekarang menjadi baju putih terindah yang pernah ia kenakan, peci hitamnya yang tadi terkoyak oleh reruntuhan batu sekarang menjadi surban hijau bagai mahkota berkilauan, wajahnya lebih cerah dari sebelumnya, tubuhnya segar bercahaya, dan kulitnya putih-bersih seperti bayi tanpa dosa.
Tapi di tempat indah itu ia hanya sendiri, hening, ia kesepian, sebelum akhirnya dari kejauhan datang rombongan mahluk penuh cahaya, ia yakin mereka adalah para malaikat, mereka menyampaikan pesan yang selama ini hanya bisa ia baca dalam Al-Quran :
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Para malaikat lalu membawanya ke suatu tempat, ke satu “pesantren” terindah yang pernah ia ketahui, disana ia diberikan privilege untuk mengaji dan meneruskan pelajaran ilmunya, bedanya tak ada rasa lelah, penat atau bosan, ia terus belajar seakan tak ada kata capek disana, yang ada hanyalah nikmat dan bahagia, saat itu ia kembali teringat keterangan yang pernah ia baca dalam kitab Tuhfatul Maulud-nya Ibnul Qoyyim :
إِنَّ اللَّـهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْمِلُ لِأَهْلِ السَّعَادَةِ مِنْ عِبَادِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمْ النَّقْصَ الَّذِيْ كَانَ فِيْ الدُّنْيَا، حَتَّى قِيْلَ : إِنَّ مَنْ مَاتَ وَهُوَ طَالِبٌ لِلْعِلْمِ كُمِّلَ لَهُ حُصُوْلُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَكَذَلِكَ مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَتَعَلَّمُ القُرْآنَ،
“Sesungguhnya Allah akan menyempurnakan bagi orang-orang beruntung ( yang wafat dalam husnul khotimah ) kekurangan mereka di alam dunia, hingga dikatakan : bahwa seorang yang meninggal dalam keadan menuntut ilmu maka ilmunya akan disempurnakan setelah wafatnya, begitu pula orang yang mati dalam keadaan mempelajari Al-Quran “.
Ia lalu diajak ke satu tempat yang jauh lebih tinggi dan indah, disana, tampak dari kejahuan ada beberapa orang dengan wajah rupawan luar biasa, ia diberitahu bahwa mereka adalah para sahabat Nabi yang selama ini hanya ia baca kisah-kisahnya dalam kitab-kitab tarikh dan hadits, di sebelah sana ia melihat golongan yang jauh lebih tampan, bersinar dan bercahaya, tak pernah di alam dunia.
Ia melihat manusia seindah mereka, ia diberitahu bahwa mereka adalah para Nabi, ada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan ratusan Nabi lainnya, dan dalam “ruangan” itu, akhirnya ia melihat sosok terindah dari yang terindah, sosok sempurna tanpa cela, senyumnya, pandangannya, diamnya, gerak-geriknya, sosok yang selama ini hanya bisa ia sebut dalam bacaan sholawat-nya, Baginda Nabi SAW kali ini benar-benar ada di hadapannya, beliau tersenyum padanya, menghiburnya, memeluknya dan menenangkan rasa takutnya.
Ia masih tidak percaya dan bertanya-tanya, bagaimana seorang “santri” biasa sepertinya, bisa dikumpulkan dengan para manusia terbaik sepanjang masa itu ? Tapi lekas saja ia teringat hadits Baginda Nabi, yang dulu pernah ia baca dan sekarang benar-benar ia alami :
من جاءه أجله وهو يطلب العلم لقي الله ولم يكن بينه وبين النبيين إلا درجة النبوة
“Barang siapa yang ajal datang kepadanya dalam keadaan menuntut ilmu agama, maka ia akan bertemu Allah, dan tak ada batas antaranya dan para Nabi kecuali derajat kenabian “ .
Lalu ditampakkan kepadanya tempat yang akan ia huni di surga kelak, sebuah istana khusus untuk mereka yang wafat di jalan ilmu, setiap bab ilmu yang ia pelajari ternyata memberinya satu tingkat dalam surga, tapi ternyata itu belum cukup, ia hanya seorang penuntut ilmu, belum sampai ke derajat para ulama, jarak antara istananya dan istana para anbiya’ ternyata masih cukup jauh, apalagi istana Baginda Nabi, hingga akhirnya ia mendengar pengumuman dari Allah kepada para malaikat :
زيدوا ورثة أنبيائي، فقد ضمنت على نفسي أنه من مات وهو عالم سنتي، أو سنة أنبيائي، أو طالب لذلك أن أجمعهم في درجة واحدة
“Tambahkanlah derajat para pewaris Nabiku, aku telah menjanjikan bahwa siapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui ajaranku, atau ajaran Nabiku, atau dalam keadaan mencari ilmu, aku akan kumpulkan mereka dengan para Nabiku dalam satu derajat yang sama “ .
Tak cukup sampai disitu, ditengah perkumpulan para ulama dan para syuhada ilmu itu, ia kembali diperdengarkan sebuah pengumuman dari Allah :
يا معشر العلماء، هذه جنتي قد أبحتها لكم، وهذا رضواني قد رضيت عنكم، فلا تدخلوا الجنة حتى تتمنوا وتشفعوا، فأعطيكم ما شئتم، وأشفعكم فيمن استشفعتم له، ليرى عبادي كرامتكم علي، ومنزلتكم عندي
“Wahai para ulama, ini adalah tempat kalian kelak, telah aku halalkan surga ini untuk kalian, dan ridhoku telah aku berikan kepada kalian, hingga ketika kalian mengharapkan sesuatu atau ingin memberi syafaat, aku akan memberi apa yang kalian inginkan, aku akan mengizinkan kalian untuk memberi syafaat kepada siapapun yang kalian mau, agar para hamba-hamba-Ku tau pangkat dan kemuliaan kalian disisi-Ku“.
Tapi masih ada satu hal yang ia fikirkan, bagaimana keadaan keluarganya yang mendadak ia tinggalkan? Bagaimana hancurnya perasaan mereka? ia membayangkan betapa terguncangnya mereka, apakah mereka ikhlas? apakah mereka ridho? tentunya tak akan semudah itu, ingin sekali ia menyampaikan bahwa : ia sekarang sudah berpindah ke “pesantren” terbaik, dengan para “pengasuh” terbaik.
Tak ada rasa sakit atau lelah, tak ada penyesalan atau kecewa, tak ada kata “tidak kerasan” seperti yang dulu pernah ia rasakan di pesantren dunia, dibalik kematian yang bagi banyak orang sangat menakutkan itu, ternyata hanya ada jutaan kenikmatan dan kebahagiaan tiada tara.
Ingin rasanya mengirim salam kepada mereka, lalu menyampaikan pesan bahwa ia bersama puluhan Syahid lainnya akan menunggu mereka di pintu surga sebagaimana yang telah di janjikan oleh Rasulullah dalam hadits yang pernah ia baca :
كان نبي الله صلى الله عليه وسلم إذا جلس جلس إليه نفر من أصحابه فيهم رجل له ابن صغير يأتيه من خلف ظهره فيقعده بين يديه، فهلك فامتنع الرجل أن يحضر الحلقة لذكر ابنه ففقده النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ما لي لا أرى فلانا؟ قالوا: يا رسول الله بنيه الذي رأيته هلك، فلقيه النبي صلى الله عليه وسلم فسأله عن بنيه فأخبره أنه هلك فعزاه عليه ثم قال: يا فلان أيما كان أحب إليك أن تتمتع به عمرك أو لا تأتي إلى باب من أبواب الجنة إلا وجدته قد سبقك إليه يفتحه لك، قال: يا نبي الله، بل يسبقني إلى باب الجنة فيفتحها لهو أحب إلي قال: فذاك لك
Dulu di Majlis Nabi Saw, ada seorang sahabat yang selalu membawa anaknya, Rasulullah SAW tau bahwa ia tak bisa lepas dari kesayangannya itu, Rasulullah SAW bertanya :
“apakah kau mencintainya?“
“tentu Rasulullah, semoga Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintainya“
Suatu ketika laki-laki itu berhari-hari tidak menghadiri majlis, Rasulullah menanyakannya, para sahabat menjawab :
“wahai Rasul, dia baru saja ditinggal wafat anaknya“
Hingga suatu hari ia datang lagi ke majlis Nabi, Rasulullah menghibur dan menguatkannya, beliau lalu bertanya :
“mana yang lebih kau sukai, engkau menikmati waktumu bersama anakmu itu seumur hidup, atau tidaklah kau datang ke pintu surga manapun, kecuali kau akan mendapatinya menunggumu disana ? “
“dia pergi mendahuluiku dan membukakan pintu surga untukku, itu yang lebih aku sukai wahai Rasulullah“
“maka itu yang akan engkau dapatkan“
Sampai detik ini hati kita hancur dan remuk berkali-kali setiap membaca berita demi berita, padahal kita bukan siapa-siapa mereka, bagaimana dengan yang dirasakan pihak keluarga ? Membayangkannya saja sudah tak sanggup rasanya.
Tak ada yang bisa kita lakukan selain berpasrah, berdoa, menguatkan dan memeluk mereka dari kejauhan. Kehilangan tak pernah dan tak akan pernah mudah, satu-satunya yang bisa menguatkan adalah dengan mengingat bahwa mereka meninggalkan kita untuk menuju kehidupan yang lebih indah, jauh dari segala kekeruhan dan hiruk-pikuk dunia.
فالموت للمؤمن الأواب تحفته * ﻭﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺒﻐﻲ ﻭ ﻳﺮتاد
ﻟﻘﺎ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﺠﺪﻩ ﻭ ﺳﻤﺎ * ﻣﻊ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺃﻧﻜﺎﺩ
“Kematian bagi seorang mukmin istimewa adalah sebuah anugerah, dengan itu mereka mendapatkan semua yang mereka impikan, mereka merayakan pertemuan mereka dengan Allah yang sudah sekian lama mereka rindukan, mereka juga mendapatkan nikmat-nikmat abadi dan tak mengenal lagi kegundahan “. (Habib Abdullah Bin Alawi Al-Haddad)
Untuk para jiwa yang tenang, para santri Syuhada Buduran, Al-Fatihah…
Ditulis oleh : Lora Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 7 Oktober 2025







