Wahaji, Banser Relawan Sopir Ambulans LAZISNU yang Setia Berkhidmah di Tengah Duka Pesantren Al-Khoziny Buduran

Sidoarjo, NU Care

Musibah runtuhnya Mushala pesantren putra Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo pada Senin (29/09/2025) lalu telah meninggalkan luka dan duka yang mendalam bagi keluarga besar Pesantren Al-Khoziny.

Dalam musibah yang menimpa, banyak relawan yang datang karena panggilan jiwa untuk membantu proses evakuasi santri korban musibah tersebut. Diantaranya, terdapat relawan yang datang dengan membawa mobil ambulans.

Salah seorang relawan ambulans yang turut bergabung dalam aksi kemanusiaan tersebut adalah Wahaji. Di usianya yang enam puluh satu tahun, Wahaji tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi bagian dari barisan relawan kemanusiaan yang turut mengevakuasi para santri korban musibah di Pesantren Al-Khoziny.

Pria paruh baya asal Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono ini adalah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkorkel Jumputrejo sekaligus sopir ambulans milik Unit Pengumpul Zakat, Infaq, Shadaqah (UPZIS) Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Jumputrejo.

“Waktu itu hari Kamis (02/10/2025) pagi kami mendapat instruksi dari Ketua LAZISNU PRNU Jumputrejo agar segera meluncur ke Pesantren Al-Khoziny untuk ikut membantu evakuasi santri yang menjadi korban. Saya pun langsung berangkat mengajak Cak Imam, teman relawan yang juga moden kampung di desa saya,” katanya, Ahad (12/10/2025), dilansir dari NU Online Jatim

Setibanya di lokasi, Wahaji segera berkoordinasi dengan tim LAZISNU Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo. Ia mendapatkan nomor urut 20 dan bertugas mengantarkan korban menuju RS Bhayangkara Surabaya.

Meski harus menunggu lama dalam antrean ambulans yang berjajar di sekitar pesantren, semangatnya tak surut sedikit pun. Hingga malam tiba, ia tetap bertahan, bahkan memilih bermalam di dalam mobil ambulans yang diparkir di dekat lokasi musibah.

“Jum’at (03/10/2025) siang baru sampai nomor urut 4. Karena antriannya masih panjang, malamnya kami disarankan untuk pulang dulu ke rumah istirahat dan esok harinya kembali ke lokasi,” tegasnya.

Kesabarannya terbayar pada Sabtu malam (04/10/2025) sekitar pukul 23.00 WIB. Malam itu, ambulans LAZISNU PRNU Jumputrejo akhirnya dipanggil untuk membawa jenazah salah satu santri korban menuju RS Bhayangkara Surabaya.

Usai melaksanakan tugas, Wahaji dan rekannya langsung pulang. Namun pengabdian mereka belum selesai. Beberapa hari kemudian, mereka kembali menerima tugas kemanusiaan.

Rabu dini hari (08/10/2025), Wahaji mengantar jenazah almarhum M Azam Alby dari RS Bhayangkara Surabaya ke rumah duka di Pesantren Daru Muttaqin, Blega, Bangkalan.

Keesokan harinya, Kamis malam (09/10/2025), ia kembali menjalankan amanah serupa yaitu mengantar jenazah M Ghifari Ari Chasbi ke rumah duka di Wonorejo, Pasuruan.

“Alhamdulillah, selama perjalanan semuanya berjalan lancar. Semoga seluruh korban husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran serta ketabahan oleh Allah,” tuturnya lirih.

Bagi Wahaji, semua yang dilakukan bukan karena imbalan, tetapi karena panggilan hati.

“Dalam kegiatan ini tidak ada gaji karena kami sifatnya relawan. Kami ikhlas karena ini panggilan kemanusiaan, apalagi membantu para santri yang terkena musibah,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Meski baru delapan bulan menjadi relawan ambulans, Wahaji mengaku pengalaman ini sangat berkesan.

“Terus terang, ini pengalaman baru bagi saya. Tapi saya senang bisa ikut membantu orang lain yang sedang membutuhkan,” tutupnya.